Scroll untuk melanjutkan membaca
Simak Persamaan dan Perbedaan Malam 1 Suro dengan 1 Muharram, Mirip tetapi Berbeda

Simak Persamaan dan Perbedaan Malam 1 Suro dengan 1 Muharram, Mirip tetapi Berbeda


Malam 1 Suro dan 1 Muharram adalah dua perayaan yang memiliki beberapa kesamaan tetapi juga memiliki perbedaan yang signifikan di antara keduanya.

Malam 1 Suro adalah perayaan yang melambangkan pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Jatuh pada tanggal 1 Muharram dalam penanggalan Hijriah, Malam 1 Suro dirayakan oleh masyarakat Jawa dengan berbagai tradisi dan ritual. Selama malam ini, banyak orang Jawa yang melaksanakan upacara ruwatan atau tolak bala serta berziarah ke makam para leluhur.

Di sisi lain, 1 Muharram adalah perayaan yang penting dalam agama Islam. Diperingati sebagai awal tahun baru dalam penanggalan Hijriah, 1 Muharram merupakan waktu yang dihormati oleh umat Muslim di seluruh dunia. Pada hari ini, umat Muslim berlomba-lomba untuk berpuasa dan mengisi hari dengan ibadah serta refleksi spiritual.

Meskipun Malam 1 Suro dan 1 Muharram mirip dalam hal merayakan pergantian tahun, ada perbedaan penting di antara keduanya. Malam 1 Suro lebih terkait dengan budaya Jawa dan tradisi-tradisi lokal, sedangkan 1 Muharram merupakan perayaan keagamaan yang diikuti oleh umat Muslim di seluruh dunia.

Dalam kesimpulannya, Malam 1 Suro dan 1 Muharram, meskipun serupa dalam hal merayakan pergantian tahun, memiliki signifikansi yang berbeda dalam konteks budaya dan agama. Penting bagi kita untuk menghormati dan memahami perayaan-perayaan ini sebagai bagian dari keragaman budaya dan keagamaan yang ada di dunia kita.

Pada penanggalan Jawa, 1 Muharram dikenal sebagai 1 Suro. Kala malam 1 Muharram atau malam pergantian tahun Islam, dikenal sebagai malam 1 Suro.

Pada tahun ini, tepatnya pada tanggal 19 Juli 2023, kita akan memasuki tanggal 1 Muharram atau yang dikenal juga sebagai 1 Suro. Sebelumnya, pada malam sebelumnya yaitu pada Selasa petang tanggal 18 Juli 2023, kita akan merayakan malam 1 Muharram atau malam 1 Suro.

Tahun baru Islam, yang dikenal sebagai 1 Muharram, ditetapkan saat Khalifah Umar bin Khattab memimpin pemerintahan. Pada tanggal tersebut, umat Islam mengenang keputusan penting untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah ini menjadi tonggak bersejarah dalam perkembangan agama Islam.

Pada awalnya, di pulau Jawa, kerajaan menggunakan sistem kalender Saka yang diperoleh dari India. Namun, seiring dengan pertumbuhan Islam di Jawa, Sultan Agung memutuskan untuk mengadopsi kalender Hijriyah sebagai sistem kalender yang digunakan di Jawa.

Walaupun sistem dan metode penghitungannya serupa, yaitu menggunakan penanggalan qamariyah atau bulan (lunar), tetapi terdapat perbedaan yang signifikan. Salah satu perbedaannya terletak pada adanya sistem hari dalam kalender Jawa.

Mengingatkan kita pada malam 1 Suro dan malam 1 Muharram, waktu yang serupa. Karena menggunakan penanggalan lunar, perubahan hari terjadi pada sore hari, atau yang disebut 'surup serngenge', sehingga malam dimulai.

Bagi masyarakat Muslim, 1 Muharram memiliki kepentingan yang besar karena merupakan hari yang penting dalam sejarah Hijrah Nabi dan para sahabat Muhajirin ke Madinah. Pada tanggal tersebut, ditetapkan serta diambil keputusan penting untuk memulai perpindahan Nabi dan sahabatnya dari Mekkah ke Madinah.

Ada beberapa perbedaan dalam pemaknaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram. Meskipun keduanya merupakan malam yang memiliki tingkat keagungan yang tinggi di dalam agama, namun pemaknaannya berbeda.

Malam 1 Suro memiliki makna dalam tradisi Jawa. Malam ini dianggap sebagai malam yang keramat dan memiliki energi mistis yang kuat. Banyak orang yang melakukan ritual khusus di malam ini, seperti mendirikan reboisasi dan memasukkan sesajen ke dalam tanah. Hal ini merupakan cara untuk menghormati leluhur dan memohon berkah serta perlindungan mereka.

Di sisi lain, 1 Muharram adalah awal dari tahun baru Hijriyah dalam kalender Islam. Di malam ini, umat Muslim biasanya berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT. Ada juga kegiatan seperti menyelenggarakan pengajian dan memberikan sedekah kepada yang membutuhkan. 1 Muharram juga seringkali menjadi momen untuk mengevaluasi diri dan membuat resolusi untuk menjadi lebih baik di tahun yang akan datang.

Jadi meskipun keduanya adalah malam istimewa dengan makna yang mendalam, Malam 1 Suro lebih berkaitan dengan tradisi dan kepercayaan lokal sementara 1 Muharram merupakan momen penting dalam agama Islam. Keduanya memiliki nilai spiritual yang tinggi dan dihormati oleh masyarakat yang menjalankannya.

Perbedaan Makna

Menurut laporan dari Tirto.id, pendapat Muhammad Solikhin dalam bukunya yang berjudul Misteri Bulan Suro: Pandangan Islam Jawa (2010), mengungkapkan bahwa kata "Suro" memiliki asal-usul dari kata Arab "Asyura" yang mempunyai arti sepuluh. Asyura sendiri merujuk kepada hari kesepuluh dalam bulan Muharram.

Adapun dalam hal kebiasaan, jika dalam agama Islam malam 1 Muharram diartikan dengan sepenuhnya yang suci, tradisi Jawa justru sebaliknya. Malam 1 Suro diartikan sebagai malam yang sangat keramat, dipenuhi dengan nuansa mistis.

Dalam menjelang kedatangannya, beragam upacara-upacara perayaan penuh kepercayaan dilaksanakan. Malam 1 Suro diartikan sebagai malam magis yang tidak terlepas dari beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.

Salah seorang yang memiliki pandangan berbeda adalah Muhammad Solikhin. Menurutnya, faktor utama yang membuat bulan Suro dianggap suci adalah adanya budaya keraton. Ia mengatakan bahwa keraton secara rutin mengadakan berbagai upacara dan ritual untuk memperingati hari-hari penting, termasuk peringatan Malam 1 Suro.

1 Muharram dalam Tradisi Islam

Berdasarkan kebiasaan turun-temurun, komunitas Muslim di negeri Indonesia kerap melaksanakan beragam kegiatan pada malam awal bulan Muharram. Salah satunya adalah mengadakan pawai obor yang melibatkan madrasah dan pesantren sebagai bagian dari tradisi lokal.

Sambil melakukan itu, mereka melantunkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Terdapat sholawat yang sangat terkenal dibaca pada malam pertama bulan Muharram, yaitu sholawat Badar.

Badar merupakan suatu lembah yang terletak di luar kota Madinah, tempat terjadinya pertempuran dahsyat pertama yang memiliki dampak besar terhadap posisi umat Islam di tanah Arab pada masa awal penyebaran agama Islam di Madinah.

Beberapa orang juga merenungkan sholawat barzanzi, di pesantren maupun di masjid dan musala. Tujuan dari kegiatan-kegiatan tersebut adalah untuk memperingati bulan Muharram, salah satu dari empat bulan yang dihormati.

Di budaya Jawa, malam 1 Suro dikenal sebagai malam yang keramat dan dipenuhi dengan berbagai tradisi lokal. Contohnya, ada tradisi kungkum, atau yang paling terkenal adalah kirab kerbau bule, laku bisu, sedekah merapi, dan sebagainya.