Scroll untuk melanjutkan membaca
ILMU MELIPAT BUMI | Karomah mbah basyaiban Kendal | waliyallah

ILMU MELIPAT BUMI | Karomah mbah basyaiban Kendal | waliyallah

 Karamah MELIPAT BUMI | Karomah mbah basyaiban Kendal | waliyallah




Kisah ini di alami kh. Soleh asal puncak wangi pangeruyung Kendal (Ayanda Kh. ROSYIDIN pengasuh salah satu pondok pesantren di bumen Sukorejo). 





Suatu hari kyai soleh bersama sang istri dan anak putrinya sowan ke mbah basyaiban Kendal di kediaman ya Desa Wonorejo Taman rejo Sukorejo kendal. Setelah lama bercengkerama tak terasa suara adzan magrib berkumandang dan kyai Soleh hendak melaksanakan sholat magrib bersama istri nya di Masjid Baitul Muttaqin Wonorejo yang berada tepat di depan rumah mbah basyaiban.

     


Namun putri kh. Soleh yang masih kecil rewel merengek minta pulang saat itu juga. Akhirnya mbah basyaiban menyarankan agar kh. Soleh dan keluarga untuk pulang,.


  Kh. Soleh menuruti apa yang di saran gurunya itu dan beliau pulang lewat hutan serta perkuburan umum di desa Tamanan dengan berjalan kaki perjalanan yang di tempuh biasa biasa saja seperti pada umumnya.


 Namun yang membuat kh. Soleh heran adalah saat beliau sudah sampai di rumah, adzan magrib baru saja berkumandang dan beliau sempat melakukan solat magrib berjamah di desa nya tersebut padahal pada jarak sejauh itu jika berjalan kaki paling tidak membutuhkan waktu lama paling tidak sekitar tiga jam sampai empat jam lebih. 


 Di lain waktu, Mbah basyaiban mengajak warga nya untuk berziarah ke makam sunan gunung jati Cirebon agenda ziarah ini di panitiai pak Daryanto. Ada sekitar empat puluh lebih jamaah yang ikut serta dalam acara ini, mereka menggunakan satu mobil bus untuk Perjalanan.


Sesampainya di cirebon di terminalGunung sari, semua jamaah turun bus dan diangkut oleh taksi dikit demi sedikit para jamaah mulai perjalanan menuju terminal gunung jati hingga tersisa sekitar lima orang yaitu :mbah basyaiban itu sendiri, putri nya (ibu jaryah), pak haji sufyan, pak Daryanto,dan yang terakhir pak. Imron. 


Menurut penuturan ibu jaryah sudah di pastikan mereka akan tertinggal jauh sebab karena mereka yang terakhir menuju terminal gunung jati tersebut. Namun ada yang aneh, Sesampainya di gunung jati ibu jaryah tidak mendapati dari satu jamaah yang berangkat duluan. 


Baru setelah sekian lama barulah mendapati para jamaah yang lain baru sampai di lokasi, itupupun setelah ibu jaryah dan yang lainnya setelah mandi, sholat dan makan dan lain lain. 


Itulah karamah melipat bumi Mbah basyaiban.